Selasa, 02 Januari 2018

Tahun Baru Tanpa Sesuatu yang Baru

Tak terasa sudah 2018. Rasanya 2017 begitu cepat berlalu. Banyak sekali kejadian yang terjadi di tahun 2017 sampai-sampai tak terasa sudah banyak yg terlupakan. Rasanya baru bulan Januari 2017 lalu membuat status 'maret merit' ternyata nggak kesampean di bulan maret 2017 yang lalu. Dan sekarang sudah di bulan Januari 2018. Lantas apa harapan saya di tahun 2018 ini?

Rasanya dalam diri ini sudah dipenuhi dengan kepesimisan. Semangat mengejar karir sudah tidak seperti dulu. Semangat coding juga sudah tidak seperti dulu, walaupun rasanya meriang jika tidak coding dalam sehari saja. Harapan saya semoga di tahun 2018 ini saya bisa menyelesaikan tesis saya dan bisa wisuda sehingga bisa menyandang gelar magister. Ingin segera mengabdikan diri di dunia pendidikan. Semoga dimudahkan, Aaamiiin...

Tak ada yang baru di tahun 2018 ini. Semua terasa sama saja. Tak ada yang berubah, tak ada yang bertambah kecuali berat badan dan masalah. Namun di sini saya tidak akan menguraikan masalah yang saya hadapi. Saya sedang berikhtiar untuk tidak mengeluh kepada siapapun dan berusaha untuk menghadapi setiap masalah sendiri. Pusing memang, tapi sudah biasa.

2-3 tahun silam pernah kutuliskan sebuah resolusi untuk membuat kantor yang bisa menampung banyak orang untuk belajar dan ngeTim. Resolusi itu juga sudah kesebutkan jika telah tercapai di tahun 2016 pada posting sebelumnya. Namun karena saya yang tidak pawai mengelola anggota, tujuan yang semula ingin saya capai, belum tercapai sepenuhnya hingga hampir 2 tahun berjalan.

Perusahaan yang dibangun juga tak kunjung menemukan profit. Tim yang dibentuk juga tidak solid. Semua berjalan terseok-seok. Seolah2 wow namun pada kenyataannya mati segan hiduppun tak mampu. Beberapa anggota mulai menunjukkan kebosanannya pada kondisi stuck ini.

Yah, mau bagaimana lagi. Mobil jika mau berjalan dengan normal harus mempunyai 4 roda. Yang mana roda harus seimbang. Tak boleh ada yang bannya kempes atau bocor. Begitu pula ketika tim ingin berjalan sesuai rencana, harus seimbang peranan dan semangatnya. Jika hanya 1, maka nasibnya akan seperti mobil yang ketiga bannya kempes. Jangankan jalan, didorong pun akan berat.

Lantas, mau diapakan mobil yang bannya kempes itu? Jika ingin terus berjalan maka ban tersebut harus ditambal atau diisi angin. Namun jika tidak, maka museumkanlah mobil itu dan beli mobil yang baru. Seperti juga tim ini, jika tak mampu lagi diperbaiki sudah sepatutnya membentuk tim baru yang mempunyai semangat yang sama. Yang bisa bertahan dalam keadaan sesulit apapun. Namun, sepertinya sudah sangat sulit. Dan saya sudah tidak mempunyai mimpi lagi untuk membuat sebuah tim. Karena polanya akan sama, yaitu bubar.

Well then, di tahun 2018 ini tidak ada ambisi mengejar profit/earning seperti dulu lagi. Karena sudah tahu rasanya, sama saja. Punya uang 100jt di dompet dengan 50rb di dompet rasanya sama. Yang dimakan juga tetap makanan di warteg yang cukup dibayar dengan lembaran 20rb an atau bahkan di bawah 10rb.



So, di tahun 2018 ini saya hanya ingin berbuat lebih banyak kepada orang lain. Membimbing dengan serius kakak ipar yang ingin terjun di dunia IM. Membimbing teman2 lainnya yang benar2 serius ingin belajar. Menghabiskan waktu dengan mereka yang mempunyai semangat menggebu2 rasanya ada kemantapan dalam jiwa. Kebanggaan menjadi pilar kesuksesan mereka rasanya tak ada duanya. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan untuk terus mengabdikan diri kepada ilmu yang saya tekuni agar berguna kepada yang lain meskipun sedikit.

Menikah? Jika dulu keinginan menikah begitu menggebu2, sekarang keinginan itu sudah terkontrol dengan baik. Walaupun satu persatu teman sudah ditakdirkan Allah untuk menikah terlebih dahulu. Tidak ada rasa iri dengki seperti dahulu ketika melihat teman sudah dipertemukan dengan pasangan hidupnya. Hati juga sudah tenang tidak gusar lagi, apalagi ketika sahabat terbaik menemukan bidadari surganya. Rasanya begitu bahagia campur haru. Kebahagian melihat sahabat terbaik menemukan kebahagiaannya. Menahan air mata haru bahagia melihat sahabat terbaik menemukan teman hidupnya. Rasanya tiada tara.

Bukan. Bukan saya sudah tidak ingin menikah. Tetapi lebih tepatnya, sepertinya belum pantas untuk menikah. Lebih banyak bercermin dan banyak belajar. Semoga di tahun ini Allah mempertemukan saya dengan dia yang dituliskan di lauhul mahfudz Nya. Aamiiin....

Sabtu, 18 November 2017

Cobaan adalah Untuk Dicoba, Bukan Dihindari

Sudah kebiasaan disetiap penghujung tahun Allah sepertinya selalu memberikan cobaan yang luar biasa untuk hambanya ini. Hampir setiap tahun, di penghujung tahun saya mendapatkan cobaan yang luar biasa. Saya menyadari mungkin ini cara Allah untuk meningkatkan kesabaran hambanya ini. Cobaan untuk dicoba bukan? Tidak untuk dihindari. So, this is the chance to be more patient than before. Saya yakin setelah ujian pasti ada kenikmatan setelahnya. Kita tunggu saja kejutan apa yang telah disediakan oleh Allah setelah ini.

Rabu, 23 Agustus 2017

Kisah Giyem dan Tarjo

Di sebuah desa Sukapergi hiduplah seorang wanita cantik berusia 21 tahun, sebut saja Giyem. Giyem adalah makhluk ciptaan-Nya yang begitu indah. Seperti halnya bunga, sudah barang pasti banyak kumbang yang datang. Giyem adalah wanita kekinian yang melek sosial media, akun facebooknya pun penuh dengan permintaan pertemanan. Jatah 5000 teman yang diberikan facebook pun ludes. Pesan di messenger, whatsapp dan aplikasi chatting lainnya pun datang silih berganti. Begitulah kepopuleran Giyem.

10 kilometer dari Sukapergi terdapatlah sebuah desa bernama Sukasepi. Di desa ini hiduplah seorang Tarjo. Pendekar yang tak diragukan lagi di desa itu. Tarjo mempunyai hobi berkelana dari satu kota ke kota lain untuk meningkatkan kanurangannya. Tarjo termasuk lelaki yang gemar online di gadgetnya. Tiap hari Tarjo membuka tutup kunci handphonenya, berharap ada pesan yang masuk. Namun kegiatan Tarjo dari pagi sampai pagi lagi tetaplah membuka tutup kunci handphonenya, tak ada satu pesan pun yang masuk. Di sela-sela itu Tarjo juga menyecroll facebook dari atas sampai bawah dan itu dilakukan berulang-ulang dengan harapan ada pemberitahuan dari facebook. Sekali ada hanya pemberitahuan postingan dari grup info cegatan yang nggak begitu penting. Begitulah Tarjo dengan segala kesendiriannya.

Suatu hari, Tarjo mendapati permintaan pesan di akun messengernya. Dengan sigap ia membacanya. Ya itu dari Giyem. Tapi Tarjo tak mengenal Giyem. Tarjo pun enggan untuk membalas pesan dari Giyem, males kalo nanti cuma kerjaan temen seprofesi yang menjebaknya dengan akun facebook palsu seperti biasanya. Tak tahu siapa yang menyuruh, Tarjo pun melakukan klarifikasi pada akun Giyem itu, apakah ini bener2 wanita beneran atau jadi2 an yang dibuat temennya. Ternyata setelah dicek, Giyem sudah mengirimkan permintaan pertemanan sejak lama, namun Tarjo tidak mengkonfirmasinya. Tidak tahu kenapa akhirnya si Tarjo malah mengkonfirmasi permintaan Giyem yang padahal tidak memakai foto asli itu dan menanggapi pesannya. Mungkin karena saking kesepiannya si Tarjo.

Hari berganti-hari komunikasi Tarjo vs Giyem makin intens, dari messenger bergeser ke whatsapp. Pagi Siang Sore Malam si Tarjo dan Giyem selalu chatting, mungkin si Tarjo dan Giyem sama2 tidak ada kerjaan. Si Tarjo pun merasa ada yang kurang ketika tidak ngobrol lewat chatting dengan Giyem. Begitupun sebaliknya. Ketika Tarjo tidak mengirimi pesan, Giyem yang menyapa duluan.

Setidaknya terjadilah 4 kali pertemuan hasil dari chatting ini. Di pertemuan pertama si Tarjo kaget ketika tahu Giyem yang jauh lebih muda 4 tahun darinya. Tarjo berfikir Giyem adalah wanita sepantarannya. Sepertinya Tarjo mulai kesengsem dengan Giyem. Tapi entah itu dirasakan juga oleh Giyem atau tidak. Pasalnya Giyem adalah wanita cantik yang digandrungi banyak manusia ganteng. Si Tarjo ragu jika si Giyem akan kesengsem juga padanya.

Hari berganti hari, si Tarjo menjadi semakin baper dengan Giyem. Ya, mungkin karena Tarjo sudah terlalu lama sendiri. Kehadiran Giyem bagaikan Oase di tengah gurun pasir yang mengobati dahaga kesepiannya. Tarjopun akhirnya berniat untuk mengajak si Giyem untuk menjalin hubungan yang serius, namun untuk itu Tarjo harus mencari tahu dulu apakah si Giyem benar-benar memiliki rasa yang sama atau tidak dengannya. Karena Tarjo pun tahu, si Giyem digandrungi banyak lelaki di media sosial. Hal itu ia ketahui ketika mengintip si Giyem yang sedang chatting di messenger dan whatsapp. Di sana terdapat banyak nama lelaki yang sedang chatting dengan Giyem. Si Tarjo pun memikirkan sebuah cara, namun cara yang dilakukan Tarjo sepertinya salah.

Suatu ketika Tarjo berpura2 berangkat berkelana mendadak tanpa memberitahu si Giyem terlebih dahulu. Si Tarjo meninggalkan pesan pamitan di whatsapp. Kemudian Giyem membaca pesan itu, sontak Giyem seperti disulut api. Giyem membalas pesan Tarjo dengan nada marah dan kecewa. Tarjo cengar-cengir membaca pesan itu dan menyimpulkan Giyem marah seperti yang diharapkannya. "Yes, Giyem ternyata memiliki rasa yang sama dengan yang kurasakan." ujar Tarjo dalam hati. Tarjo sengaja tidak membaca pesan itu dan membiarkannya agar sandiwaranya terlihat sempurna. Messenger dan whatsapp pun berdatangan pesan dari Giyem. Tarjo semakin senang dan mantap kalo Giyem juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Ketika jam menunjukkan pukul 15.00, Tarjo membalas pesan dari Giyem. Dia sengaja mencari waktu yang pas dengan waktu tempuh mencapai tempat berkelananya. Agar sandiwaranya sempurna. Tarjo membalas pesan di Giyem dan menjelaskan kalo semuanya serba mendadak dan tidak sempat memberitahu Giyem terlebih dahulu jauh2 hari. Tak sesuai dugaannya Giyem makin marah dan kecewa terhadap Tarjo. Akhirnya Tarjopun berniat jujur kalo sebenernya Tarjo belum berangkat dan menceritakan semuanya. Namun hasilnya malah mengerikan, Giyem semakin marah dan kecewa dengan Tarjo yang sudah membohonginya dan merasa dipermainkan. Tarjo mulai keringat dingin, hatinya yang sudah mantap dengan Giyem berubah menjadi cemas. Berkali-kali Tarjo mengirimi Giyem pesan, namun Giyem hanya membacanya tanpa membalas. Tarjo memandangi hp nya terus menerus dan mengirimkan pesan berulang kali dengan harapan Giyem membalas pesannya.

Nasi sudah menjadi bubur, tinggalah penyesalan yang diderita Tarjo. Tanggapan yang diberikan Giyem bertolak dengan dugaannya sebelumnya. Giyem menjadi kecewa dan menjadi semakin cuek dengan Tarjo seolah tidak terima dibohongi dan dipermainkan. Tarjo yang niatan awalnya hanya untuk mencari tahu, akhirnya menelan ludahnya ketika Giyem semakin kecewa dengannya.

~~~ Tamat ~~~

pesan moral: jangan lakukan kebohongan sekecil apapun pada siapapun, terlebih lagi kepada wanita. wanita diciptakan menjadi makhluk yang paling sensitif dan rapuh, sekali perasaannya tercederai maka sulit bagi wanita untuk kembali seperti semula.

tulisan ini ditulis dari cerita nyata yang disamarkan identitas asli dari tokohnya.

Jumat, 16 Desember 2016

Kereta yang Membisu

Tak terasa sudah 5 bulan di Jogja. Hidup sebagai anak rantau ababil di Kota Gudeg untuk memenuhi kewajiban tolibul ilmi. Kenapa kubilang ababil? Karena meskipun kuliah dan ndekos di Jogja, aku tetap pulang kampung setiap 2 minggu sekali. Banyaknya pekerjaan di rumah mengharuskanku untuk sering bolak-balik Jogja-Nganjuk. Banyak hal yang harus ku-urus sehingga wajib pulang 2 minggu sekali.

Angkutan favoritku untuk memobilisasi pulang kampung atau sebaliknya adalah kereta. Yap, selain murah dan nyaman, kereta dapat di-andalkan untuk masalah ketepatan waktu. Berangkat dan tiba yang hampir jarang meleset. Aku biasa naik kereta Ekonomi Kahuripan untuk pulang dan kadang kereta Sri Tanjung untuk kembali ke Jogja. Namun dalam 1 bulan ini karena banyaknya urusan di rumah aku terpaksa untuk menunggangi kereta malam. Yang mana kereta malam kebanyakan adalah kereta Bisnis dan Eksekutif yang harganya 2-3 kali lipat kereta Ekonomi. Mau nggak mau aku harus naik itu, karena nggak ada pilihan reasonable yang lain.

Yap, dengan kereta Bisnis aku bisa sedikit lebih lama di rumah. Biasanya sampai Nganjuk sabtu pagi, kemudian dirumah bentar, selanjutnya aku berangkat ke basecamp sampai minggu malam, kadang sampai senin pagi. Senin sore aku harus kembali ke Jogja, karena jam 11 malam ada kelas yang harus kuikuti. Sangat singkat di rumah. Bulan ini kelas udah usai, aku bisa kembali lebih malam, biar bisa sedikit lebih lama ngobrol sama keluarga di rumah. Sehingga kuputusin buat naik kereta Bisnis dengan jadwal yang agak malam.

Itulah intermezo yang enggak penting dari tulisan ke 103 di blog ini, lanjut ke hal yang lebih penting untuk kita renungkan. Memang dari segi kecepatan, kereta Bisnis dan Eksekutif bisa di-andalkan. Namun, dari segi "sosial" sangat enggak banget bagiku. Jika di kereta Ekonomi dengan mudahnya kuhabisin perjalanan dengan obrolan ngalor-ngidul dengan penumpang lain yang sama sekali enggak kenal, di kereta Bisnis dan Eksekutif hal itu mustahil terjadi. Yap, rata-rata penumpang kereta Bisnis dan Eksekutif adalah orang dengan penampilan yang necis. Berbeda dengan penumpang kereta ekonomi yang campur baur mulai dari cewek cantik berhijab yang ramah dan orang tua yang cerewet yang suka ngajakin ngobrol padahal mata pengen tidur. Tapi hal itu yang menyenangkan yang enggak kudapati di kereta Bisnis dan Eksekutif. Mereka cenderung sibuk dengan orang lain yang ada jauh dari di tempat duduknya (gadget).

Hampir sembilan puluh koma sembilan sembilan persen penumpang kereta Bisnis & Eksekutif sibuk dengan gadget yang ada di tangan. Sisanya sibuk dengan membaca, entah itu buku atau majalah yang sudah disediakan di kantong kursi. Aku pernah mencoba mengajak penumpang di sampingku untuk ngobrol, namun obrolan itu enggak cair seperti di kereta ekonomi. Cenderung kaku, singkat dan akhirnya orang yang kuajak ngobrol sibuk lagi dengan gadgetnya. Sibuk dengan BBM, Whatsapp, Facebook dan aplikasi messenger sejenisnya. Sebenernya tidak cuma di kereta, fenomena merunduk ini sudah menggerogoti sebagian besar manusia di muka bumi ini. Mereka sibuk dengan orang jauh dan mengabaikan orang yang ada disampingnya. Kalau memang hal ini sebagai tanda kemajuan zaman, kalo boleh aku usul enggak maju zaman nya enggak apa2. Biar semua kembali ke komunikasi tradisional yang lebih mesra, anti salah paham dan dari hati ke hati. Kalau memang ini nggak bisa dihindari, aku usul agar ada Hari Tanpa Gadget tiap bulannya. hiks

~ Kereta yang Membisu ~

Rabu, 14 Desember 2016

Bis Ramayana, Semarang, Lawang Sewu dan Kota Lama

Kamis (8/12), setelah presentasi Design UI Smart Birth, aku izin pulang untuk bergegas bersiap diri berangkat ke Semarang. Sampai di kos aku langsung packing dan sarapan. Bercelana biru berkaos oblong merah tanpa mandi aku bergegas berangkat ke Terminal Jombor di antar teman kos untuk mencari bis jurusan Semarang. Satu satunya alternatif transportasi publik dari Jogja ke Semarang adalah bis. Sudah kucek di aplikasi kereta api, tak ada kereta Jogja - Semarang.

Sampai di terminal sudah ada bis Ramayana jurusan Semarang yang ngetem menunggu keberangkatan. Segera kubeli tiket seharga 45 ribu dan masuk ke dalam bis. Aku mendapat kursi nomor 6, di sampingku sudah ada cewek dari sekolah pramugari. Terjadi obrolan singkat dan renyah selama perjalanan ke Semarang. Inilah yang kusuka ketika naik transportasi publik, selalu ada perbincangan di dalam perjalanan.

Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, aku sampai di Sukun - Banyumanik. Aku sudah janjian dengan seorang teman di Semarang. Dia bilang agar aku turun di Sukun, kemudian dia yang akan nyamperin di Sukun. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit - an, temanku datang. Mungkin gegara jalanan yang begitu macet waktu itu. Baru berjalan beberapa km sudah disambut hujan, akhirnya kita putusin untuk mampir ke mushola sekaligus jama'-qoshor sholat dzuhur yang kutinggalkan ketika perjalanan tadi.

Hujan sudah mulai reda, dan kami melanjutkan perjalanan ke Lawang Sewu. Kurang lebih 15 menit kami sudah berada di loket Lawang Sewu. Aku sedikit penasaran dengan Lawang Sewu ini, karena setiap teman yang berkunjung ke Semarang pasti pamer foto Lawang Sewu. Dasar akunya nggak begitu jago motret, aku cuma punya beberapa foto Lawang Sewu yang mungkin angle nya juga kurang pas.







Foto yang seharusnya vintage, ditanganku terlihat biasa biasa saja yak. Emang dasar aku bukan potograper. Yang penting ada dokumentasi lah. Setelah puas jalan di Lawang Sewu, destinasi selanjutnya adalah Kota Lama yang lokasinya nggak jauh dari Lawang Sewu. Ini potret Kota Lama yang berhasil kujepret. Nggak bagus juga angle nya.



Lebih tepatnya salah angle, nggak mewakili kota tua sama sekali soalnya, cuman motret gereja aja. :D. Jangan tanya fotoku mana, nggak ada sama sekali, lebih tepatnya pada hancur hasil jepretannya. Entah partner yang fotoin aku juga nggak bakat atau emang aku yang nggak potojenik. Sekian yak catatan singkat tentang Bis Ramayana, Lawang Sewu dan Kota Lama.

Kamis, 17 November 2016

Ulang Tahun: Pencapaian, Resolusi dan Renungan

Kemaren (17/11/16), usiaku sudah 24 tahun. Enggak ada yang istimewa di usia ini. Hilal jodoh juga belum nampak. Yang ada adalah kompleksitas masalah yang kuhadapi di usia ini kian rumit. Dari masalah kuliah hingga urusan kerjaan yang kian rumit. Tidak lagi memikirkan 1 orang, tapi memikirkan banyak orang. Di kesempatan ini aku pengen membahas pencapaian, resolusi dan renungan di hari ulang tahunku ini. Dengan harapan di tahun berikutnya aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi.

Pencapaian

Tidak banyak hal yang kucapai di usia ini, namun beberapa target (dunia) sudah dapat kucapai tanpa kusadari dengan sendirinya. Mereka adalah:

$10,000/month. Dulu aku pernah mempunyai mimpi itu, aku pikir itu adalah hal yang sangat mustahil. Tapi seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah Allah membukakan jalan itu, jalan yang enggak pernah kuduga. Tepatnya bulan Agustus kemaren aku berhasil meraih penghasilan itu hingga bulan ini. Syukur yang luar biasa atas karunia nikmat yang luar biasa ini.

Bikin Kantor. Yap, aku pengen bikin kantor yang disitu bisa digunakan bareng2 oleh teman2 yang ingin belajar bareng2 masalah internet marketing, Alhamdulillah tahun ini udah tercapai. Enggak besar, namun cukup untuk tiduran di lantai bersama 15 orang. Yang terpenting bisa ngumpul rutin untuk sukses bareng2. Setidaknya tiap hari ada aktifitas di kantor ini, entah ngobrolin project atau sebagai pelarian karena dirumah ditanyain nikah mulu.

S2. Aku pernah berfikir untuk lanjut S2, ya Alhamdulillah di tahun ini aku diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalananku menuntuk ilmu di Jogjakarta. Semoga aku dikuatkan agar nanti bisa menyerap ilmu yang disampaikan dan bisa lulus tepat waktu.

Enggak banyak yang kucapai tahun ini, karena enggak banyak lagi yang ingin kukejar.

Resolusi

Ada beberapa resolusi di usiaku yang udah hampir seperempat abad ini, mereka adalah:

Yang pertama tentunya aku ingin segera mempunyai teman hidup (baca istri) agar aku punya motivasi yang lebih kuat untuk terus hidup dan berjuang. Enggak muluk2 yang penting solikhah, walaupun cantik enggak masalah :v.

Selanjutnya aku pengen besarin basecamp, bikin network yang bisa handel banyak orang, bisa membantu banyak orang. Ini sedang kugarap, semoga tahun depan bisa selesai dan mengudara.

Enggak banyak resolusiku, udah 2 itu saja.

Renungan

Aku sering merenung, hal apa yang bisa kulakukan dengan ilmu yang kumiliki ini. Aku ingin lebih banyak bermanfaat untuk orang lain. Semoga Allah segera membukakan jalanku untuk lebih bermanfaat untuk orang lain. Aamiiin...

Selasa, 15 November 2016

Kakak Terbaik

Seorang wanita kelahiran 87, gendhut namun tetap manis. Dikaruniai seorang putri yang begitu cantik dengan lesung pipit di pipinya. Itulah kakakku, musuh berantemku dikala aku masih kecil hingga aku SMP. Tepatnya aku kehilangan teman duel ketika kakakku ini memutuskan untuk merantau ke negeri seberang setelah dia lulus SMK.



Semenjak kepergiannya ke negeri seberang aku yang notabene anak kedua menjadi seperti anak pertama, menjadi sok pengatur pada kedua adikku. Sepulangnya dari negeri seberang penampilannya berubah derastis. Dulu yang masih kumel, cupu berubah menjadi wanita yang begitu cantik dan langsing. Berbeda dengan sekarang, setelah menikah kini menjadi padat penuh berisi namun tetap manis karena lesung pipitnya.

Cukuplah kubahas tentang fisiknya. Sekarang aku kepengen bahas sifatnya. Kakakku ini berbeda 360 derajat dengan diriku. Ada yang bilang aku begitu kalem dan penyabar dan berbeda sekali dengan kakakku yang kaku dan kadang mudah disulut api amarah. Melihat keluarga atau adiknya dilecehkan atau direndahkan orang, begitu mudahnya dia emosi. Mungkin itu jiwa kakak yang notabene ingin menjadi pelindung bagi adik-adiknya.

Aku sangat mengerti dibalik sifat kaku kerasnya terdapat hati yang begitu tulus mencintai keluarga dan adik-adiknya. Aku sangat merasakan itu. Sekalipun dulu ketika kecil aku hampir tiap hari menangis oleh cakaran kukunya karena berantem adalah rutinitas pada kala itu. Aku sangat yakin hatinya begitu lembut dan begitu tulus untuk keluarga. Aku sangat merasakan itu ketika dia mulai berkeluarga dan kita tak lagi serumah. Aku selalu merindukannya.

Jarak fisik kita mungkin sangat jauh, namun hati kita mungkin sudah terhubung. Kadang ketika hati ini sedang rindu, dia tiba-tiba menelepon adiknya ini. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama. Ikatan batin yang kuat antara adik dan kakak. Kadang ketika adiknya sedang galau, tiba-tiba dia muncul di telepon membuat suasana menjadi ceria. Tak pernah kulihat beban di wajahnya ketika aku bertemu dan bercanda ria. Padahal aku sangat tahu masalah yang sedang dihadapinya enggak kecil.

Semoga Allah selalu menjagamu wahai kakak terbaikku.

Jumat, 07 Oktober 2016

Jogja, Aku, Dia dan Mereka

Mimpi tadi malam membuatku ingin menuliskan sesuatu di blog ini. Mimpi tadi malam benar-benar menakutkan "untuk orang pemberani seperti saya". Saya tak perlu menceritakan mimpi itu, yang jelas hari ini aku mau curhat ke blog ini tentang kesanku hidup di perantauan di tanah Jogja.

Ini adalah hari ke 82 "Aku" tinggal di Jogja. Banyak sekali hal-hal yang kualami selama 82 hari di tempat istimewa ini. Tinggal sendiri di kos membuatku sering merindukan "Mereka", ayah, ibu, adek dan teman-temanku di Nganjuk. Tak dapat dipungkiri rasa rindu itu kadang menyiksa batinku, aku pernah bilang kepada temanku kalau aku lagi keluar rumah, aku tak pernah kepikiran rumah. Namun pada faktanya aku selalu teringat rumah, selalu kepikiran bagaimana kondisi ayah, ibu dan adik2ku. Semoga mereka selalu baik-baik saja. Air mata ini selalu saja menetes dengan sendirinya tatkala aku mencoba untuk kuat menahan rinduku pada mereka. Ini adalah pertama kali aku merantau meninggalkan tanah kelahiranku, mungkin aku begitu cengeng tapi inilah yang aku rasakan. Aku menjadi orang yang begitu lemah tanpa mereka di sini.

Tak kuat lagi aku menulis, air mata ini sudah membanjiri wajah sok kuat ku. Mungkin akan kulanjutkan di lain waktu.

Minggu, 11 September 2016

Be Useful to Others

Being useful to others is not easy. Begin this time, I must be able to be useful to others. Ganbate!