Minggu, 16 November 2014

Harapan Besar di Usia 22 Tahun

Malam ini ku terbangun dari tidur lelapku. Aku nggak tahu apa yang membuatku terbangun. Cek jam di hanphone baru pukul 1.34 a.m. Baru aku sadari ternyata aku belum sholat isya'. Sontak segera kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi di belakang rumah yang serem untuk segera melaksanakan sholat. Setelah sholat tak tahu kenapa mata ini kok ga bisa merem lagi. Di tengah usahaku untuk tidur lagi, terdengar suara getar di hpku. Yap, ada beberapa notifikasi di facebook. Setelah dicek, ternyata ada beberapa teman yang memberi ucapan selamat ulang tahun di timelineku. Baru kusadari ternyata hari ini adalah hari ulang tahunku.

Tak ada yang istimewa dan memang aku tidak pernah mengistimewakan hari ulang tahunku. Kecuali beberapa tahun yang lalu yang sempat diistimewakan oleh sang mantan yang kini sudah hamil anak orang (uppss, semoga hidup kalian bahagia). Hari ulang tahun menjadi hari yang biasa dan sama saja dengan hari-hari biasa di hidupku. Tak pernah ada perayaan khusus di hari kelahiranku ini. Memang menurutku hari ulang tahun bukan untuk dirayakan, melainkan untuk direnungkan. Wong umure sudo kok seneng lan dirayakne iki piyeee (indo: Berkurangnya umur kok bahagia dan dirayakan itu bagaimana maksudnya).

Setelah kuhitung semenjak dilahirkan, kini usiaku memasuki angka 22. Angka yang biasa dan tidak ada yang istimewa. Namun di angka yang biasa ini terbesit beberapa harapan besar dalam benakku. Sebagai manusia biasa, anak dari orang biasa dan hidup biasa biasa saja, aku juga punya resolusi seperti yang lain. Di usia 22 tahun ini aku hanya punya 2 keinginan yang besar. Yang pertama adalah lulus, yang kedua adalah menikah.

Mungkin menurut orang-orang menikah di usia kurang dari 25 tahun bukanlah hal yang ideal. Namun rasanya tidak ada yang salah menurutku jika menikah di usia ini. Yang menjadi masalah adalah menikah dengan siapa? Setelah putus 2 tahun yang lalu, aku memutuskan untuk tidak pacaran. Bahkan keinginanku ini terwujud dan berjalan sangat mulus sampai-sampai tidak ada sms dari cewek sama sekali di hpku. Sekali ada, itu hanya sms dari teman kuliah yang broadcast message seputar perkuliahan yang tak jauh dari info seputar uts, tugas, jam kosong, dkk.

Ups, jadi keinget mantan. Saat ini mungkin usia kandungan mantan sudah mendekati 5-6 bulan. Jika teringat kisah terlarang (baca:pacaran) yang cukup lama (baca: 3 tahun) yang kujalani dengan dia (baca: Mis C), rasanya tidak karuan. Ingin mukul tembok, takut sakit. Hubunganku berakhir setelah Mis C bertemu Mr K di tempat perantauan. Mr K memberikan perhatian lebih kepada Mis C yang sedang menjalani LDR (Long Distance Relationship) dengan saya. 2 tahun Mis C di perantauan tidak ada masalah yang berarti dalam hubungan kita, namun semenjak Mr K hadir dan menjadi teman Mis C yang bisa menjadi penghibur saat Mis C tidak menerima balasan SMS dariku, tidak mendapat telpon dariku, sulit menghubungi aku. Mr K seolah-olah hadir sebagai seorang sempurna yang bisa memberikan perhatian lebih dari apa yang kuberikan. Aku yang sibuk dengan pekerjaanku, sibuk dengan lembar-lembar tugas kuliah, sibuk dengan ribuan baris code yang harus terpecahkan menjadi orang yang sangat sial.

Aku tidak mau cerita lagi kisah pahit yang memilukan, sebenernya masih panjang. Namun langsung pada intinya ya. Singkat cerita Mis C pulang ke kampung halaman, seperti biasa aku tidak bisa menjemput di terminal. Seperti biasa juga aku tidak bisa menemuinya di rumah, karena memang aku sedang kuliah dan tidak memungkinkan untuk bertemu. Mungkin ini juga yang membuat Mis C meninggalkanku yang menurutnya tidak memberikan perhatian kepadanya. Jarang ketemu, sebulan juga belum tentu. SMS jarang, telpon tidak pernah. Menyebalkan mungkin, tapi sebagai seorang wanita kalian seharusnya bisa sedikit berfikir lebih panjang. Kalau kekasih kalian sedang memperjuangkan kalian dengan sesungguhnya, sedang mengejar karir untuk masa depan yang lebih baik, sedang menuntut ilmu untuk kehidupan yang lebih baik. Ups, bukan pembelaan lho.

Back to topic, pada keadaan seperti ini akhirnya Mis C meragukan perasaanku padanya. Mis C melihatku sebagai kekasih yang terlalu sibuk dan tidak seperti dulu saat sebelum kuliah. Pemikiran yang dangkal memang. Ssssssssst, singkat cerita ya, dari tadi singkat cerita mulu tapi panjang. Aku dipanggil kedua orang tua Mis C. Ditanya, untuk segera melamar Mis C dan menikahinya jika memang tidak ingin diambil Mis K. Orang tua Mis C sudah tahu akan hubungan anaknya dengan Mis K. Sebagai orang tua yang merestui hubungan kami sejak 2009 silam, beliau mempunyai harapan besar pada saya untuk menikahi anaknya dan tidak menginginkan anaknya dengan orang lain selain saya. Mungkin beliau bisa melihat dengan mata yang sesungguhnya terhadap perjuangan yang sesungguhnya yang sedang saya lakukan untuk kehidupan anaknya yang lebih baik. Namun apa daya, aku hanya bisa jawab jika aku belum siap untuk saat itu. Aku bilang untuk nunggu sampai lulus kuliah dulu. Saat itu masih semester 4, terlalu dini juga menurutku jika aku memutuskan menikah di usia 20 tahun itu. Pekerjaan yang belum bisa diandalkan, kuliah yang berantakan, kreditan motor yang baru beberapa angsuran. Semua hal itu kuutarakan kepada beliau. Beliau bilang, semua itu bukan masalah, semua bisa dihadapi setelah menikah. Akhirnya beliau memberiku waktu untuk berfikir lagi.

Dalam benakku masih terpikir bagaimana bisa aku memberi makan anak orang, sedangkan aku yang sudah kerja dan kuliah saja masih minta makan sama orang tua. Akhirnya aku kembali dengan jawaban yang sama. Dengan berat hati akhirnya beliau merestui hubungan Mr K dengan ananknya di perantauan. Karena beliau khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada anaknya karena tidak bisa mengkontrol hubungan mereka. Singkat cerita tahun 2013 yang lalu mereka menikah. Dan baru beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan undangan resepsi pernikahan mereka di timeline facebook saja. Sontak banyak yang mengomentari undangan tersebut dan ejekan dari teman-teman juga datang membully saya. Semoga mereka bahagia.

Back to topic, setelah kandasnya hubungan ini aku mulai berpacu untuk membereskan mimpi-mimpi yang masih tertunda. Memacu semangat untuk sukses di bisnis online. Pada akhirnya secara tak sadar, perpisahan tersebut membawa dampak yang sangat besar dalam progress perwujudan mimpi saya. Satu persatu mimpi terwujud. Dan mimpi yang paling besar adalah menjadi pengangguran yang punya banyak waktu dengan keluarga akhirnya juga terwujud. Andai kamu bisa sedikit bersabar, mungkin saat ini kita bisa menikah dan aku mempunyai banyak waktu untukmu karena profesiku  tidak menuntutku untuk ngantor dan bekerja di bawah aturan yang menyulitkan hubungan kita. Bah... semoga tidak dibaca mantan. Saat ini tidak ada perasaan lagi pada Mis C di dalam hatiku. Namun kisahku dengan Mis C menjadi pukulan yang besar dalam hidupku dan sebagai pemicuku untuk menjadi orang yang lebih baik untuk mewujudkan semua mimpiku. Tak sadar gara-gara putus denganmu aku bisa mendapatkan semua ini.

Semoga di usia yang sudah 22 tahun ini saya  dipertemukan dengan wanita yang saya impikan. Wanita sholihah, udah itu aja. Walaupun cantik dan pinter bahasa inggris tidak masalah. Amiiin...
Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakanmu wahai jodohku. Semoga engkau lekas datang mengisi kekosongan hati ini. Cieee........

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar Anda setelah Anda membaca tulisan saya. Anda bebas menggandakan artikel dari blog ini asal tuliskan tautan balik blog ini.Terima kasih atas kunjungan teman-teman.